Aku dan rasa malas

Hai, tanpa bermaksud sok sibuk. Aku ingin bercerita, tentang agendaku yang padat. *Ceileeeeeeh candaan aja ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Sebelumnya, aku termasuk orang yang sangat malas. Setiap waktu luang, kupergunakan untuk tidur.

Klimaks kemalasan terjadi pada bulan September lalu, dimana aku hanya bisa ditemukan di 2 tempat, yakni: Tempat kerja dan kamar tidur saja.

Aku hanya (akan) keluar jika urgensi agenda benar-benar berada pada titik darurat. Contohnya saat panggilan alam, semisal mules atau lapar dan sebagainya.

Ah, ya …
Bukan berarti kemalasan menjadikan aku abai dengan pekerjaan rumah. Buatku mereka bukanlah pekerjaan, melainkan kebutuhan. Maka, anggaplah itu juga sebagai bagian dari bermalas-malasan.

Kalau ditanya jarang piknikkah? Kujawab lantang: iya.
Tapi, itu bukan masalah. Aku bahkan sering menolak ajakan piknik hanya karna terlalu menyayangkan waKtu tidurku yang sudah pasti berkurang. Jadi, kesimpulannya adalah “aku (memang) pemalas”,

Setelah hampir sebulanan kumengurung diri, tiba juga masanya otakku mulai berfikir, mengurung diri tidak membuat kulitku semakin putih bersih. Justru, aku sering menunda-nunda jadwal mandi. Berakhir pada, kebiasaan mandi malam hari. ๐Ÿ˜“
Tulang-tulangku akhirnya kumat lagi.

Pertengahan november, aku membaca sebuah pengumuman loker sebagai guru bimbel. Tidak dengan niat iseng, kucoba melamar sebagai guru. Kuanggap ini adalah satu dari banyaknya cara Tuhan menyelamatkan anak muda ini dari akutnya sifat malas.

Setelah menjalani tes, wawancara dan sebagainya, alhamdulillaah aku diterima.

Setelah resmi memulai observasi tanggal 24 Oktober. Barulah semua agenda kumanage ulang.

-Shift kerjaku tidak lagi: pagi, siang, malam.
Tapi, pagi 2 hari. Sisanya malam 4 hari.
Ibuku adalah orang pertama yang memprotes keputusanku. Beliau bilang bahwa, “aku pasti akan (lebih) banyak mengeluh lelah dan sakit nanti-nanti”, Tapi, aku memang keras kepala. Maka, tetap saja kujalani.

Nah, dengan begini. Jadilah aku seorang wanita nokturnal sesungguhnya. Melek malam hari, tidur pagi hari.

Begitu terus, sampai ketemu hari libur 2 hari, tapi diisi pula dengan jadwal rutin kursus yang agendanya seminggu 2 kali, ditambah tetap mengajar juga sore hari.

Tapi, minggu ini aku kebagian libur diRumah sakit ataupun tempat bimbel sabtu-minggu. YEAY!!! Ini kuanggap sebagai penghiburan kecil dari Tuhan untuk badanku yang mulai lelah. Semoga semangat ini selalu sebesar mimpi-mimpi yang kupunya.

Aku mencintai dunia ini. Maka, semoga saja tidak akan kudengar lisan ini mengeluh karna jenuh atau yang lain-lain. Apalagi karna sakit.

Aamiin.

23/11/17, Sang bumi ruwa jurai.

Iklan

22 tanggapan untuk “Aku dan rasa malas”

  1. kukira dalam hal piknik kita ada kesamaan. lebih menyukai molor dirumah dibanding piknik. tiduran sambil buka hape atau baca buku adalah piknik yang nyata bagi saya daripada jalan kaki kemana mana.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Waw, gadis nokturnal, haha……

    Resiko sih ya krn jdwal kerjamu bgtu,…. jd mungkin bkn pemalas kli ya, tp ….. gak rajin kali ya, ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜€๐Ÿ˜๐Ÿ˜€

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s